Logo Rabu, 22 Agustus 2018
Karirpad, Situs Lowongan Kerja Terpercaya
images

Suasana rumah duka di Perumahan Kemang Pratama 2, Jalan Kemang Amarilis 2, Kota Bekasi, Jawa Barat.

JAKARTA, KORANMETRO.com - "Selamat jalan Mamaku." Demikianlah status di Facebook Sahat HMT Sinaga, mantan Ketua Umum Gerakan Angkatan Muda Kristen (GAMKI) dan Sekretaris Jenderal Partai Damai Sejahtera (PDS) menjelaskan atas wafatnya ibunda B boru Sirait (Op Tasya Boru).

Dipanggil Bapa di Sorga, Kamis (26/1/2017) dini hari, pukul 02.42 WIB, pada usia 78 tahun di Rumah Sakit Cikini, Jakarta Pusat. Tak berapa lama jenazah ibunda senior GMKI ini kemudian dibawa pulang dan disemayamakan di rumahnya yang beralamat di Perumahan Kemang Pratama 2, Jalan Kemang Amarilis 2, Kota Bekasi, Jawa Barat.

Tampak Sahat masygul. Tak berhenti meneteskan air mata atas kepergian ibundanya. Amat manusiawi berduka jika orangtua atau orang yang kita kasihi meninggal dunia. Tak kepalang, kematian orangtua mungkin merupakan salah satu hal yang paling memilukan, sebab semua kenangan masa lalu bersamanya mengelayut, sehingga rasa sedih yang amat sangat.

“Mama orang yang sangat berharga, dia yang melahirkan, merawat dan mendidik kita sampai tumbuh dewasa. Dan sampai kita menjadi orang yang sukses, bisa menggapai impian,” katanya.

Begitu sampai di rumah duka, kebaktian penghiburan pertama langsung digelar pimpinan GKPI Perumnas II Bekasi, pendeta, majelis dan beberapa jemaat. Juga tampak yang sudah datang melayat daripihak keluarga terdekat, baik dari keluarga Sinaga dan keluarga Sirait. Terlihat juga para tetangga yang turut menyambut pelayat, seperti Saor Siagian, pengacara.

Almarhumah meninggalkan 8 keturunan. Dua putra, dua menantu, dan empat cucu. Anak pertama Sahat, anak kedua Dr Budiman Sinaga, dosen di Universitas Nommensen, Medan.

Rencananya besok akan digelar acara adat Batak, acara saurmatua untuk almarhumah yang dikategorikan kematian yang hampir purna dalam budaya Batak. Oleh karena almarhum meninggal, anak-anak sudah menikah dan memberi cucu.

Setelah prosesi adat Batak, jasad almarhumah akan dikebumikan, Sabtu (28/1/2017), di sebelah pusara suaminya, (alm) Penatua S A Sinaga (Op Tasya Doli) di TPU Pondok Kelapa, Jakarta.

Saat kebaktian, pendeta dalam renungannya mengajak keluarga untuk senantiaasa bertahwakal menghadapi kedukaan ini. “Selama ini almarhumah, ibu yang kita kasihi ini sudah sakit. Walau jelas, kita secara manusia kita belum rela kepergiannya. Tetapi, yang pasti Tuhan lebih tahu yang terbaik untuk kita,” kata sang pendeta memberikan nasehat.

Dan pihak gereja pun juga memberi kesaksian, menggenal benar sosok almarhumah, sebagai sosok orangtua yang baik.

Orangtua Teladan

Keteladanannya salah satu adalah bisa mendidik kedua anaknya menjadi orang yang berarti untuk orang banyak. Sahat dan Budiman keduanya dikenal sebagai figur yang telah berbuat bagi kemaslahatan banyak orang. Sebagai aktivis Kristen dan pendidik.

Hal senada ditambahkan Tobing, salah satu majelis mengatakan, “Betapa orangtua ini adalah orangtua yang telah menunjukkan keteladan. Tak pernah mengharapkan anaknya kaya tetapi berguna untuk orang lain. Terakhir saat pihak gereja datang ke rumah sakit tak ada tanda-tanda beliau sudah akan dipanggil. Tentu kita bersedih dimuliakan Tuhan ibunda Penatua Sahat Sinaga,” ujar majelis gereja senior di GKPI Perumnas II, Bekasi ini.

Sahat sendiri selain sebagai penatua juga salah seorang anggota majelis pusat GKPI, gereja yang berkantor sinode di Pematang Siantar, Sumatera Utara. Sahat menjelaskan, sebelumnya ibundanya sudah sakit, cuci darah, beberapa tahun ini.

Beberapa tahun ini, tradisi dari keluarga Sahat selalu menggelar kebaktian syukur untuk ibundanya setiap tanggal 28 Desember, atas tanggal dan bulan kelahiran Op Tasya Boru.

Dan, 28 Desember 2016 yang lalu merupakan kebaktian syukur terakhir. Hanya sehari setelah ulangtahun itu, almarhumah langsung sakit dan segera dibawa ke rumah sakit.

Sahat sendiri dan keluarga juga mesti merelakan kebaktian akhir tahun di Rumah Sakit Cikini. Sebelum menutup mata, selama 28 hari perjuangan almarhumah bergulat melawan penyakit, hingga menghembuskan nafas terakhir.

“Tuhan mengajariku, tentang kehidupan penuh kedamaian dan kesabaran, terus berpengharapan kepada Tuhan yang empunya otoritas kuasa atas manusia dan mahkluk-mahkluk lain dalam alam semesta ini,” tutur Sahat.

Dia sendiri walau lahir di Cimahi, Bandung memahami benar filosofi Batak “Natua-tua mi do Debata Natarida.” Artinya, orangtuamulah representasi Tuhan yang tampak.

Secara kasat mata tak mungkin bisa melihat Tuhan, maka untuk melihatnya menghormati orangtua. Filosofi itu dihidupinya, bahwa orangtua harus dihormati dan diberikan pelayanan yang terbaik di masa tua hingga hayatnya.

Di hari tua ibundanya, Sahat mengambil ahli tanggung jawab sebagai anak pertama, melayani, merawat ibunya yang tinggal bersama  mereka serumah. Sesekali adiknya Budiman dan istrinya juga datang dari Medan untuk menjeguk ibu mereka.

Penghormatan pada orangtua pun juga ditunjukkan istri Sahat, Rita boru Sitorus (Kabag Hubungan Antar Lembaga Dewan Pers) juga sosok parumaen atau menantua yang hebat. Benar-benar memperlakukan mertuanya sebagai orangtuanya. Selama almarhumah sakit, tak pernah menjadi masalah dalam keluarga ini, mereka memberi yang terbaik merawat orangtua hingga hayatnya.

Sahat sendiri selalu setia, bahkan mengorbankan pekerjaan, menggutamakan ibundanya, demi untuk mendampingi ke rumah sakit. Kesedihan Sahat tentu bukan kepalangan. Jelas bukan karena penyesalan belum memberikan yang terbaik. Kesedihannya hanya mengingat kebaikan ibundanya yang menunjukkan keteladanan pada mereka, keturunannya.

Akhirnya, kami, segenap anggota Persatuan Wartawan Nasrani Indonesia (PEWARNA) mengucapkan turut berbelasungkawa yang sedalam-dalamnya untuk ibunda abang kami Sahat Sinaga, yang juga penasihat PEWARNA yang telah berkalang tanah. Kematian orang yang kita kasihi membawa duka yang dalam. Namun, sebagaimana Paulus mengatakan, hidup bagiku Kristus mati keuntungan. Selamat jalan inang. (Hojot Marluga/jek)